NEWS UPDATE :  
SD ISLAM TERPADU WILDAN MAMUJU

Berita

Kecerdasan dan Kesuksesan

Ketika kepala sekolah di sebuah sekolah menengah sedang membacakan nama-nama siswa yang ter-golong pintar dalam yudisium sekolahnya, seorang siswa tiba-tiba bertanya, "Ibu, siapakah yang lebih pintar, Albert Einstein atau Mike Tyson? Rudi Hartono atau B.J. Habibie?"

Ibu kepala sekolah tidak saja kaget, tetapi juga marah. Dengan suara tegas dan berapi-api, ia berkata di depan pengeras suara, "Mana mungkin Mike Tyson yang kerjanya memukul orang dibandingkan dengan Einstein yang menemukan hukum relativitas. Apa-lagi membandingkan Habibie dengan Rudi Hartono," lanjutnya.

Si siswa penanya yang kebetulan pemain basket terkenal yang mengharumkan nama sekolahnya-tidak cuma kecewa dengan jawaban itu, tetapi juga merasa sia-sia dengan keterampilannya. Dia tidak pernah dianggap cerdas dan pantas memperoleh penghargaan kecerdasan dari sekolah. Dia mengalami kekecewaan serupa sebagaimana yang dialami se-orang pemain gitar terkenal dari sekolahnya.

Kasus yang merupakan kisah nyata di beberapa sekolah di Manado ini membuka mata banyak orang tentang kecerdasan. Apakah yang cerdas hanyalah mereka yang pintar matematika dan bahasa; yang IQ mereka di atas 100? Fakta lain membuktikan bahwa sebagian besar siswa yang nilai rapornya bagus banyak yang kemudian menganggur. Sementara yang pintar main musik dan piawai berolahraga diterima di beberapa bank sebagai karyawan tetap. Lebih hebat lagi, mereka jauh lebih sukses dibandingkan teman-temannya yang pintar matematika dan bahasa itu.

Kasus lain terjadi di fakultas kedokteran. Di antara dokter yang lulus tepat waktu (6,5-7 tahun) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,0 merupakan dokter-dokter yang gagal, baik sebagai kepala Puskesmas maupun dokter praktik swasta. Ketika menjadi kepala Puskesmas, mereka menjadi pemimpin yang gagal. Ketika membuka praktik, mereka kekurangan pasien. Sementara kawan-kawan mereka yang hampir drop out karena terlalu lama sekolah, juga dengan IPK biasa, justru menjadi dokter-dokter yang berhasil ketika bekerja di lingkungan masyarakat. Di antaranya bahkan menjadi dokter teladan.

Bagi orang awam, dua kasus di atas itu biasa-biasa saja. Namun, bagi ahli yang menekuni bidang kecerdasan manusia, kasus di atas tergolong luar biasa. Disebut luar biasa karena ternyata siswa atau mahasiswa yang pintar di sekolah (dengan nilai rapor dan IPK yang bagus) belum tentu menjadi orang-orang sukses di masyarakat Dengan kata lain, kesuksesan hidup tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor atau IPK seseorang.

Kasus paling tragis tentang hubungan kecerdasan dan kesuksesan tampak pada si genius Theodore John Kaczynski. Si genius ahli matematika lulusan Harvard University dan Michigan University ini dijuluki Unabom. Dengan bom yang diciptakannya sendiri, dia membunuh 3 orang, melukai 23 orang, dan merancang teror bom selama 17 tahun. Maut yang ditebarkannya selama puluhan tahun tidak sebanding dengan kegeniusannya; usia 15 tahun dia tamat SMU, usia 16 tahun beroleh beasiswa di Harvard, usia 20 tahun memperoleh gelar sarjana, dan pada usia 21 tahun memperoleh gelar doktor matematika.

Isi otak si genius Ted kaya dengan matematika. Kemampuannya sangat mengagumkan. "Ted selalu memakai imajinasinya," kata mantan dosennya. Tidak heran, serumit apa pun soal matematika pasti dapat diselesaikannya. Sayang, kehebatannya di bidang mate-matika tidak diiringi kepiawaiannnya dalam membina hubungan sosial, Ted memiliki cacat dalam membangun hubungan sosial dengan orang lain. Ted adalah "orang pintar yang jahat". Sedikit mirip dengan orang-orang pintar yang melahirkan penemuan yang disengajakan untuk membunuh orang.

Di sekitar kita ada banyak "Ted" dengan berbagai variasinya. Para genius di sekolah menengah maupun perguruan tinggi-se-bagian mereka dengan ambisi-ambisi tak terkendali-merupakan figur-figur idola banyak orang. Sebagian besar orang lebih meng-idolakan Habibie daripada Iwan Fals. Sebagian lagi mengidolakan Thomas Eddison daripada petinju Muhammad Ali. Ini tidak sepenuh-nya salah. Namun, ini dapat menjadi bukti kurangnya penghargaan terhadap kemampuan lain yang dimiliki oleh beragam orang. Bayang-kan saja, prasyarat penerimaan pegawai dari suatu instansi pemerintah yang pernah dimuat sebuah harian nasional: "Berpendidikan sarjana, IPK di atas 3,0, pengalaman kerja minimal 1 tahun, dan diutamakan sarjana eksakta". Prasyarat itu, yang selalu ada dalam penerimaan pegawai apa pun, lahir karena anggapan berlebihan terhadap kecerdasan matematika. Seakan-akan ada hubungan langsung antara IPK 3,0 dengan keberhasilan pekerjaan, Prasyarat tersebut telah mengakibatkan kerugian yang tidak kecil bagi mereka yang memiliki IPK di bawah 2,0, tetapi dengan kecerdasan lain yang lebih dominan. Penghargaan umum terhadap Wynne Prakusya yang pemain tenis itu atau Ayu Azhari yang artis sinetron itu belum sebagaimana mestinya.

Intelligence Quotient (IQ) yang hampir seratus tahun lalu diperkenalkan oleh William Stern telah menyita perhatian yang tidak kecil. Bangunan-bangunan utama kecerdasan ditakar dalam skor-skor tertentu. Takaran IQ bahkan telah menjadi momok bagi siswa tertentu ketika ia harus memilih mau menjadi apa dia kelak. Yang lebih tragis, takaran IQ telah menghilangkan kesempatan berkembang bagi mereka yang memiliki IQ rendah, tetapi dengan kecerdasan lain yang dominan.

Intelligence Quotient (IQ), menurut psikolog Daniel Goleman hanya menyumbang sekitar 5-10 persen bagi kesuksesan hidup. Sisanya v adalah kombinasi beragam faktor yang salah satunya adalah kecerdasan emosi (Gramedia, 1996) Intelligence Quotient (IQ), menurut Paul Stoltz, hanya bagian kecil dari pohon kesuksesan dalam semua hal. Stoltz yang menulis buku laris, Adversity Quotient (Gramedia, 2000), me-nyebut kinerja, bakat dan kemauan, karakter, kesehatan, kecerdasan, faktor genetis, pendidikan, dan keyakinan sebagai kunci-kunci kesuksesan manusia.

Kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdas-an majemuk (MI) merupakan kunci-kunci kesuksesan yang betul-betul mengorek hingga ke dasar-dasarnya kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Namun, perlu dicatat secara jelas bahwa ketiga konsep itu memiliki kelemahan yang signifikan dalam meng-aktualkan potensi dasar otak manusia. Ukuran IQ memiliki kelemahan dalam hal pemberian peluang bagi nuansa-nuansa emosi-onal, seperti empati, motivasi diri, pengendalian diri, dan kerja sama sosial. Sementara itu, MI lebih menonjolkan aspek kognitif. sekalipun musik, olahraga, dan hubungan antarpribadi dipandang sebagai kecerdasan jenis tertentu. EQ. sebagaimana juga ditemui pada konsep IQ dan MI, sama sekali menepiskan peranan aspek spiritual dalam mendorong kesuksesan. Ketulusan, integritas, tanpa pamrih, rendah hati, dan orientasi kebajikan sosial adalah beberapa hal penting dari kehidupan spiritual yang memberi kepuasaan total bila seseorang sukses. Aspek-aspek spiritual itu tidak hanya membuat seseorang sukses, tetapi juga bahagia.


dikutip dari buku Taufik Pasiak: Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan Al-Quran