NEWS UPDATE :  
SD ISLAM TERPADU WILDAN MAMUJU

Berita

CARA MUDAH MERUSAK DIRI

Saat duduk santai menikmati segelas kopi di teras rumah, tanpa sengaja saya memperhatikan kembali bekas luka di kaki dan lutut saya. Seketika ingatan saya melayang pada sebuah peristiwa beberapa tahun silam.
Kala itu saya mengendarai motor tua warisan saudara menuju kampus. Sebagai ketua tingkat, saya mendapat tugas mengumpulkan laporan praktikum teman-teman. Di tengah perjalanan, saat menyalip sebuah motor, dari arah berlawanan melaju sebuah truk tinggi. Tepat ketika berpapasan, terdengar bunyi keras “bukk…!”. Seutas kabel listrik yang melintang jalan terseret truk dan menyambar motor saya. Dalam hitungan detik, saya terkapar di aspal.
Anehnya, saya masih sempat bangun dan berlari menghampiri motor yang terseret cukup jauh. Baru setelah duduk di teras rumah warga, tubuh saya terasa lemas. Rasa perih dan nyeri di kaki mulai muncul, bahkan untuk berdiri pun terasa sulit. Padahal beberapa detik sebelumnya saya masih mampu berlari.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui ilmu endokrinologi (cabang ilmu biologi yang mempelajari system hormon). Tubuh kita ternyata bisa menjadi "super human" saat menghadapi situasi kritis. Pada kasus kecelakaan motor diatas, situasi saat mata melihat kabel melintang dikirimkan ke otak untuk diterjemahkan. Otak ternyata membacanya sebagai situasi berbahaya. Hipotalamus di otak mengambil alih informasi ini dengan mengirimkan sinyal ke kelenjar adrenal yang berada diatas masing masing ginjal kita untuk menghasilkan hormon adrenaline.
Hormon Adrenaline ini menimbulkan efek langsung pada tubuh berupa jantung yang berdetak lebih cepat, pembuluh darah melebar, pupil mata melebar, kadar gula darah meningkat, nafas lebih cepat dan yang paling penting adalah rasa nyeri ditekan. Alhasil, kondisi berbahaya saat kecelakaan motor diatas terasa berlangsung singkat, tanpa rasa sakit dan masih mampu berlari. Bahkan menurut saksi mata, motor yang disalip sebelumnya juga ternyata menghantam punggung saya dari belakang. Namun karena efek adrenalin ini, kondisi berbahaya tersebut bisa dilewati dengan cepat dan seperti tidak terasa. Saat situasi Kembali aman, kadar adrenalin turun dan efeknya pun ikut berkurang. Hasilnya, badan terasa lemah dan barulah rasa sakit benar-benar terasa.
Menariknya, Dalam Neurosains (ilmu tentang otak), suatu kejadian yang benar-benar terjadi dan kejadian yang hanya ada dalam fikiran kita akan direspon sama oleh otak kita. Artinya, sesuatu yang hanya terjadi dalam bayangan pun bisa memicu reaksi fisiologis yang sama. Sebagai contoh. Anda Adalah seorang guru, suatu Ketika seorang siswa terlihat oleh anda menarik kursi temannya yang hendak duduk. Karena ulah siswa anda ini, anak tersebut jatuh kelantai menyebabkan tulang ekornya berpotensi cedera. Kondisi tersebut memang genting karena beresiko kelumpuhan bagi korbanya bahkan dalam beberapa kasus berakhir meninggal.
Anda sebagai seorang guru yang bertanggung jawab segera membawa anak tersebut kerumah sakit terdekat untuk ditangani sambil menghubungi orang tuanya. Anda yang panik juga menghubungi orang tua siswa anda ini untuk menginformasikan apa yang telah diperbuat oleh anaknya. 
Dimalam hari, saat informasi masih simpang siur terkait hasil pemeriksaan, kolega dan keluarga juga tak hentinya bertanya perkembangan kasus tersebut. Anda yang sudah tidak bisa menikmati makanan sejak siang tadi mencoba menenangkan diri untuk berbaring dikasur empuk kamar anda (karena memang juga telah larut malam). Bukannya tidur, bayangan kejadian itu terus hadir, membayangkan bagaimana hasil pemeriksaan anak itu dirumah sakit, bagaimana jika ia lumpuh, bagaimana tuntutan orang tuanya, bagaimana kemungkinan orang tua siswa anda tidak menerima anaknya berbuat demikian (menarik kursi) sebab dirumah ia Adalah anak yang tenang dan baik (setidaknya mungkin itu pengakuan orang tuanya) dan banyak lagi pikiran lain yang hadir ditengah ketidak jelasan informasi.
Kondisi fikiran yang demikian akan ditanggapi otak sebagai kejadian yang nyata. Alhasil, proses pelepasan hormon adrenaline dimulai dengan serangkaian efek-efek yang ditimbulkannya. Jantung anda berdebar mengalirkan darah dengan deras ke otot dan otak membuatnya semakin waspada dan siap siaga, mata menjadi sangat terang meski sedang tertutup, gula darah naik membuat tubuh terasa berenergi meski seharian belum makan. Hasilnya, insomnia (susah tidur), maag kambuh, hormon stress kortisol meningkat, anda sudah membayangkan apa yang akan terjadi besok dengan sangat dramatis, sistem imun menurun. Jika kondisi seperti ini berlarut-larut maka anda bisa jatuh sakit karena pikiran yang meng-andai tersebut.
Padahal kenyataannya, hasil pemeriksaan medis mungkin hanya menunjukkan cedera ringan. Orang tua siswa pun bisa saja bersikap kooperatif dan bertanggung jawab. Ancaman yang terasa besar ternyata sebagian berasal dari konstruksi pikiran sendiri.
Ketiadaan informasi membuat beberapa orang langsung memberikan Kesimpulan dan respon negatif dibandikan respon positif. Anda ingat berapa kali anda menelpon seseorang entah itu teman atau istri anda tapi sama sekali tidak dijawab, ketiadaan informasi mengapa istri anda tidak menjawab telepon tersebut membuat anda mungkin berandai-andai dengan memunculkan beberapa kemungkinan dan kesimpulan negatif. Hasilnya,ya jengkel. Padahal istri atau sahabat anda itu sedang mandi dan ia tidak mungkin membawa hape bersamanya saat itu. 
Di sinilah terlihat bagaimana pikiran dapat menjadi sumber penderitaan yang kita ciptakan sendiri. Bukan peristiwa nyata yang melelahkan kita, melainkan tafsir dan bayangan yang kita bangun di kepala.
Pikiran positif cenderung menenangkan, sementara pikiran negatif mudah memicu stres berkepanjangan. Jika dibiarkan, bukan hanya ketenangan batin yang terganggu, tetapi juga kesehatan fisik dan kualitas hubungan sosial. Tanpa disadari, cara paling mudah merusak diri sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari cara kita berpikir.

Penulis: Rahmat Sophyan